Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts
Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts

Tuesday, 4 August 2015

Air Terjun dan Goa Jepang Pundong, Saksi Atas Refleksi Perjalanan

“Nothing’s Impossible!” Kawan, familiarkah telinga kita dengan peribahasa  tersebut? Sepertinya kita akan menjawab “IYA”,  sesuatu yang terlihat sulit menjadi mudah untuk dicapai jika kita percaya. “Nothing’s Impossibe” yang dalam bahasa Indonesia berarti “ Tak ada yang tak mungkin”.

Kemudian, jika peribahasa ini diucapkan oleh diri kita pribadi, pertanyaannya adalah sudahkah kita mampu melawan rasa pesimis pada diri kita dalam menghadapi hal yang sulit? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jika kita mempercayainya dan mau memperjuangkannya dengan sabar.

Saya pun pernah  belajar dari pepatah tersebut saat mengayuhkan sepeda. Merupakan hasil refleksi saya akan suatu pengalaman bersepeda yang tidak akan pernah terlupakan. Pengalaman tersebut adalah pengalaman bersepeda ke daerah Pundong dengan menggunakan sepeda yang sebenarnya kurang tepat digunakan pada medan yang saya tempuh ini.

Bersama dengan tiga teman saya (mereka adalah Primasta, Rake, dan Dito), kami hendak melakukan perjalanan bersepeda menuju Air Terjun Pundong. Saya menggunakan sepeda WimCycle Vulcan yang merupakan sepeda lama saya yang shifternya sudah tidak berfungsi. Karena menurut informasi yang saya dapat bahwa medan menuju tempat tujuan tidak berat, maka saya berani menggunakan sepeda itu.

Dalam perjalanan, kami menyusuri hamparan sawah nan hijau di sepanjang pedesaan daerah Bantul. Kami menerobos jalan-jalan perkampungan di daerah Bantul. Dari perempatan Manding kami bergerak ke kiri menuju arah Pundong. Begitu sampai di perempatan Pundong kami  lurus ke selatan hingga menjumpai jembatan gantung Soka Pundong  yang menjembatani Desa Seloharjo dan Desa Srihardono.

Saat kami melewati Jembatan gantung Pundong, kami mengambil beberapa foto sebentar. Kami tak mau melewatkan pemandangan keren dari jembatan ini. Jembatan dengan latar belakang perbukitan ini cukup bagus pemandangannya. Sepedaku aman, pikirku. Dengan bermodalkan sepeda lawas , saya cukup puas bisa bersepeda hingga menjangkau tempat ini.

Cukup puas mengambil foto di jembatan Pundong, kami bergerak ke arah kiri jembatan. Ada dua tanjakan yang harus ditaklukkan. Disinilah saya mulai diuji untuk menaklukkan tanjakan. Tanjakan bisa saya lewati meski dengan mengeluarkan cukup tenaga. Sepeda saya masih bisa diajak kompromi lagi, berarti masih aman, pikir saya lagi.


Jalanan beraspal yang kami lewati berubah jadi jalan berbatu dan licin ketika memasuki dusun Bobok Tempel, desa Seloharjo. Saat ada jalan menuju SD Muhammadiyah Kalinampu kami masuk  dan lurus mengikuti jalan tersebut hingga menjumpai gapura. Inilah tantangan yang kedua, dimana saya harus menuntun sepeda  saat melewati medan off-road (licin dan berbatu). Akses jalan yang berbatu dan licin cukup menyulitkan kami sehingga kami pun harus nuntun pit sampai ke tujuan.


Saat sudah sampai tujuan, kami cukup senang karena air terjunnya deras dan tidak ramai pengunjung. Air terjun ini belum banyak dikenal. Masyarakat sekitar juga belum mengembangkannya sebagai obyek wisata. Sayang sekali menurut saya karena air terjun ini cukup indah. Air terjunnya cukup tinggi dan airnya cukup deras. Saya berharap masyarakat sekitar segera tergerak untuk mengembangkan air terjun ini.


 
                                       
Cukup senang sudah bisa menginjakkan kaki di Air Terjun Pundong, teman saya lalu mengajak melanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang Pundong. Ajakannya saya terima karena katanya Goa Jepang Pundong berada tak jauh dari air terjun Pundong. Maka, bergegaslah kami menuju Goa Jepang Pundong.

 Dari air terjun Pundong kembali ke jalan arah selatan menuju ke jalan Parangtritis (jalan masuk ke timur jembatan Kretek).  Kami Ikuti  jalan aspalnya hingga tak lama kemudian dapat dijumpai papan penunjuk arah lokasi Goa Jepang setelah tanjakan.

Menurut info yang saya dapat dari www.Wikipedia.org, Goa Jepang Pundong ini terletak di dusun Ngreco, dan Poyahan, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul. Goa ini merupakan salah satu peninggalan Jepang di Yogyakarta pada masa Perang Dunia II. Dibangun di atas bukit dan berfungsi sebagai tempat persembunyian tentara Jepang.

Saya kembali diuji saat menuju Goa Jepang Pundong. Sepanjang perjalanan menuju Goa Jepang adalah jalur yang berupa tanjakan dengan tebing dan jurang yang menjulang di sisi jalan dan jurang di sisi lainnya. Ibarat menjalani hidup, setiap manusia pasti akan mendapat ujian. Di sinilah kesabaran dan semangat saya dipertaruhkan. Tanjakan demi tanjakan, tikungan demi tikungan, bahkan beberapa tanjakan maut harus saya nikmati. Saya lebih sering nuntun sepeda daripada menaikinya. Selain karena sepeda saya tidak mumpuni untuk medan tanjakan, waktu itu saya juga sedang belajar bersepeda nanjak. 




Lantaran energi saya banyak terkuras saat menikmati tanjakan, saya pun berhenti istirahat tiga kali. Sempat terpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan karena ada warga sekitar yang menyarankan demikian. Medan serta panjang lintasan tanjakan yang tidak mumpuni untuk sepeda saya. Ah, lemah sekali semangat saya. Namun, dukungan dari teman-teman akhirnya dapat membesarkan hati untuk terus melanjutkan perjalanan. Saya anggap tanjakan-tanjakan itu sebagai teman perjalanan yang harus dinikmati, bukan sebagai lawan yang harus ditaklukkan.


Setelah berjuang melalui beberapa tanjakan akhirnya kami sampai di lokasi goa jepang yang pertama.  Goa Jepang ini terdiri dari enam belas goa yang berderet hingga sampai di puncak perbukitan. Beranjak dari goa pertama, saya lanjutkan untuk menjelajah ke goa-goa lainnya.




Perjalanan yang menguras banyak energi ini terbayarkan dengan adanya pemandangan yang indah begitu sampai di puncak bukit Pundong yang menghadap Pantai Parangtritis. Di sini, saya dimanjakan oleh pemandangan syahdu Goa Jepang yang berhiaskan pemandangan Pantai Parangtritis serta rimbunnya pohon di sekitar bukit. Seakan-akan saya enggan pindah dari tempat ini. Setelah terpuaskan oleh pemandangan indah ini, kami lalu turun bukit dan kembali pulang.
#Pemandangan dari puncak bukit Pundong yang sangat indah

Suatu pengalaman memang selalu membawa pelajaran atas hasil refleksi terhadap apa yang telah terjadi. Ya, cukup membukakan mata saya bahwa kemudahan tidak datang dengan cuma-cuma.  Kemudahan akan datang sesudah kesulitan. Sebenarnya, kalimat "tak ada yang tak mungkin / nothing’s  impossible" akan menjadi lebih bijak jika di lengkapi menjadi "tak ada yang tak mungkin sebelum dicoba dan jika tak mengenal putus asa". Meski dalam pengalaman saya ini baiknya saya seharusnya perlu mengetahui dahulu gambaran medan yang hendak ditempuh. Adalah sangat penting untuk menyesuaikan jenis sepeda yang hendak dipakai dengan medan yang akan ditempuh. Setidaknya untuk meminimalisir segala resiko yang bisa terjadi.

Akhir cerita, mungkin  apa yang pernah diutarakan oleh R.A. Kartini di bawah ini bisa menjadi pegangan hidup kita:
“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan daaing karena kamu selangkah lagi untuk menang,” RA Kartini

Tidak ada perjuangan yang sia-sia, begitu pun saat kita bersepeda.  Ambil sepedamu dan teruslah berjuang mengayuhnya hingga sampai di tujuan :)









Wednesday, 8 July 2015

HIDUP ITU PILIHAN

Sedang berhadapan dengan situasi dilematis untuk menentukan suatu pilihan hidup.

Ya, hidup itu pilihan. 

Hanya diriku yang bisa menentukan yang terbaik untukku. Semua keputusan harus bisa aku tanggung semua konsekuensinya. Selamat memilih dan menentukan, De :)



Maria Dea W.
Thursday, 9 July 2015

Tuesday, 30 June 2015

MELACUR (Melakukan Curahan Hati)

Do you feel like in these situations? :

1. You start having a serious conversation with your pals. You are no longer converse about silly moments, nonsense things, straw, and sort of it frequently. The conversation will mostly about how to graduate soon, how to grab a job soon, how to make much money, how to get your lover’s attention (?), and many others. 
2. You get your friends upload the photos of being graduated, being married, being in the work place and also having a baby at your social media accounts. Your timeline will be filled by those kinds of photos.

3. You never ask money from your parents anymore. They feel like they reluctant to give you money or they just warn you to make money by yourself.
4. You reflect what you did in the past. None can be repeated. The reflection will bring you to think what should we do and act in this period.



If you now experience these, let me say “Welcome to the adulthood”. Time is ticking. All we can do is doing as best as we can in this time. Just be calm, none can be worried about. As we struggle hard, the easy life will allow us to get it.

Monday, 29 June 2015

"Pencinta Alam", Bergeser Makna kah?

“Pencinta Alam”, Bergeser Makna kah?

Apakah Anda sering merasa risih ketika menjumpai sampah yang berserakan di sepanjang destinasi wisata yang Anda kunjungi? Apapun bentuk sampahnya, mulai dari sampah bungkus makanan minuman hingga sampah visual (poster, coret-coretan) pasti sampah itu membuat pemandangan jadi tidak enak dipandang. Ditambah lagi perusakan cagar alam oleh oknum-oknum tertentu yang menurut saya sudah di luar kewajaran.

Dalam kesempatan ini, saya hendak menyampaikan pandangan saya tentang apa yang kita kenal dengan istilah “pencinta alam” dengan merefleksikan pengalaman saya selama ini. Sejak saya duduk di bangku SMA, yang terlintas dalam benak saya akan “pencinta alam” adalah seseorang yang sangat kagum dan cinta dengan alam sehingga kelestarian alam pun dijaga. Mereka juga seorang yang tangguh bertahan hidup di alam karena mempunyai bekal keterampilan penyelamatan diri di alam bebas.

Kini sepertinya banyak orang yang kini berlomba-lomba menjadi “pencinta alam”. Banyak orang yang terbawa dalam euforia kegiatan piknik/jalan-jalan/tamasya/travelling. Dengan dalih mencintai alam, orang-orang kini banyak yang berkedok sebagai “pencinta alam sejati”. Berfoto ria dengan latar belakang tempat wisata  lantas mengunggahnya di media sosial untuk menunjukkan eksistensinya mencintai alam.

#Foto hanya sebagai ilustrasi :)

Sayangnya, kegiatan piknik ke berbagai wisata alam kini justru jauh dari pandangan saya tentang seorang “pencinta alam” yang sejati. Banyak pelancong yang justru membawa mudharat dan tidak membawa manfaat bagi alam. Sampah berserakan di setiap sudut tempat. Pelancong yang mengendarai kendaraan bermotor meningkat (polusi udara pun meningkat). Kerusakan alam akibat ulah manusia tak terelakkan lagi. Di sini saya tidak bermaksud menyudutkan atau menghakimi siapapun. Saya hanya ingin merefleksikan pengalaman saya selama ini. Kini istilah “pencinta alam” telah mengalami pergeseran makna. Banyak yang mengklaim diri sebagai pencinta alam karena sering melakukan aktivitas mendaki gunung, menyusuri pantai, menyusuri goa, dan lain-lain meski perilakunya tidak mencerminkan “pencinta alam sejati”. Lantas sudah pantaskah kita menjadi pencinta alam? 

Belum lama ini kita dikejutkan dengan peristiwa jebolnya tebing di Pantai Sadranan serta meninggalnya Erry Yunanto di kawah Merapi. Di saat banyak orang larut dalam hingar-bingar piknik ke pantai dan mendaki gunung, Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dengan mengingatkan umat-Nya.

Setelah saya merefleksikan semua pengalaman saya, kini yang jadi perhatian saya adalah bagaimana kita sebagai seorang pelancong bisa bertanggungjawab terhadap alam atau tempat yang dikunjungi. Tiap pelancong mempunyai cara masing-masing dalam mengunjungi destinasi wisata. Entah itu mau berwisata dengan bergowes ria, dengan “backpackeran” , atau pun dengan bergabung dengan paket wisata agen tertentu. Tujuan mengunjungi tempat wisata juga beragam; ada yang ingin mencari tantangan, mencari hiburan, observasi, liputan, dan lain-lain. Kegiatan foto-foto juga sah-sah saja karena tentu kita semua ingin mendokumentasikannya. Tak munafik, saya pun juga hobi foto di tempat wisata. Semua itu tidak ada yang dilarang karena yang terpenting adalah cara menunjukkan sikap bijak kita terhadap lingkungan.

Cukup belajar dari apa yang kita lihat dan bisa lakukan di tempat yang kita kunjungi. Di sini saya mencoba menjabarkan akan hal apa saja yang bisa kita lakukan di tempat yang dikunjungi untuk menjaga alam:
1.      Jangan meninggalkan sampah
Hal tersebut adalah hal sederhana yang bisa dilakukan untuk merawat lingkungan namun sering kali orang malas melakukan. Seberapa susahnya sih membuang sampah pada tempatnya? Sangat saya sarankan untuk membawa kantong plastik dari rumah untuk membuang sampah karena tidak semua tempat wisata menyediakan tempat sampah. Sampah dari bekal yang dibawa bisa dimasukkan ke tempat sampah atau ke kantong plastik (jika tidak disediakan tempat sampah).

2.      Memungut sampah yang berserakan
Meskipun bukan kita yang membuang sampah sembarangan, namun alangkah baiknya jika kita sadar diri untuk memungutinya. Jangan biarkan sampah menggunung. Ide kegiatan pungut sampah yang dicetuskan salah satu teman pesepeda, Wilian Bike, saya rasa sangat positif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Lanjutkan nak :)


#Kegiatan pungut sampah

3.      Kurangi penggunaan plastik
Seperti yang kita tahu bahwa plastik itu susah diurai. Oleh karena itu, saya sarankan untuk membawa tas kain dari rumah untuk membawa bekal makanan dan minuman.
4.      Jangan meninggalkan coret-coretan
Untuk apa meninggalkan coretan pada tempat yang dikunjungi kalau hanya akan merusak lingkungan?
5.      Meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi alam
Tinggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi alam sebelum kita pulang. Kegiatan “Gerakan Oemoem 1 Maret Tanam Pohon” di hutan pinus yang diselenggarakan belum lama ini adalah contohnya. Gerakan penanaman pohon ini salah satu wujud dari kepedulian kita pada alam. Di kegiatan ini, masing-masing peserta mendapat satu bibit pohon bakau yang ditanam di hutan wisata Mangunan.

#Tanam pohon di Mangunan

Mungkin masih ada banyak upaya lain yang bisa kita lakukan di tempat wisata yang dikunjungi. Tujuannya sama, untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Pada dasarnya, alam berlaku adil terhadap manusia.Jika kita tulus mencintai alam dengan merawatnya, alam pun akan lebih mencintai kita. Cintailah alam sekarang juga sebelum alam akan menghukummu. Lantas, apakah kamu sudah layak menyebut diri sebagai “pencinta alam”? Atau hanya sekedar “penikmat alam”?


Thursday, 18 June 2015

Jiwa Pahlawan di Era Globalisasi

Indonesia mampu memproklamasikan kemerdekaannya berkat perjuangan para pahlawan hingga titik darah penghabisan. Beratus-ratus tahun silam ketika pihak kolonial menginjakkan kaki pertamanya di bumi Indonesia, disitulah perjuangan dan semangat bangsa Indonesia mulai diuji. Mereka juga mempekerjakan masyarakat pribumi Indonesia untuk bekerja kasar dimana keuntungannya dipakai pihak kolonial. Mereka mengeksploitasi hampir seluruh kekayaan bangsa Indonesia dan menjadikan bangsa ini sebagai boneka mereka.

Hingga muncul banyak oknum-oknum yang tidak kuasa menyaksikan penderitaan dan jerit tangis masyarakat bangsa Indonesia oleh karena perbuatan keji bangsa penjajah. Mereka melakukan perlawanan-perlawanan terhadap penjajah untuk menyelamatkan kondisi bangsa Indonesia. Dengan semangat dan keberanian yang membara, mereka tak gentar melawan bangsa penjajah. Merekalah yang disebut sebagai pahlawan bagi kemerdekaan bangsa. Jasa-jasa dan perjuangan mereka patut kita teladani dan kita hormati.

Meskipun kaum penjajah telah 70 tahun yang lalu kembali ke negara asalnya dan bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sebenarnya bangsa ini masih membutuhkan hadirnya seorang pahlawan meskipun era kolonialisme sudah berakhir yaitu pahlawan sejati yang mempersembahkan jiwa raganya untuk membebaskan bangsa ini dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Kini bangsa Indonesia tidak lagi dijajah seperti pada masa penjajahan silam, tapi kini dijajah oleh keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Pemberantasan keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan tersebut adalah kewajiban kita sebagai generasi penerus bangsa. Hal tersebut dapat diwujudnyatakan dengan cara tekun dalam menuntut ilmu dan mengembangkan bakat dan minat masing-masing.

Dengan modal pendidikan tinggi akan dapat membawa nasib bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan menuntun bangsa Indonesia pada posisi yang setara dengan negara-negara maju., karena generasi penerusnya dapat membenahi segala aspek kehidupan bangsa. Selain itu, kaum muda juga harus mampu mengharumkan nama bangsa dengan berani berlaga di kancah internasional sesuai talenta kita masing-masing. Dengan menorehkan prestasi di kancah internasional, dapat menjadi ajang pembuktian terhadap dunia bahwa Indonesia bukanlah negara yang berada di garis kebodohan dan keterbelakangan.
kini dapat kita jumpai produk-produk luar negeri dan instansi-instansi luar negeri telah merajalela di seluruh pelosok negeri ini. Betapa sakit dan teririsnya hati kita jika melihat kenyataan ini, karena uang hasil pendapatan produk dan instansi luar negeri tersebut justru akan masuk di kas keuangan luar negeri kan? Padahal tempat produksinya di Indonesia dan para konsumennya adalah orang Indonesia sendiri lho. Kita nggak mau kan Indonesia dijajah lagi oleh negara yang lebih maju di era globalisasi ini?

Jadi, sebelum Indonesia tenggelam dalam lautan penderitaan karena dijajah oleh negera lain lagi di era globalisasi ini, kini saatnya kita untuk menyingsingkan lengan baju kita untuk senantiasa memajukan bangsa Indonesia menuju gerbang kehidupan yang lebih aman, makmur dan sejahtera. Ingatlah kawan! Perjuangan kita sebagai tunas bangsa masih terbentang luas untuk memajukan negeri ini!